Berani Beretika

Berani beretika

Pagi ini saya berangkat kekantor di kawasan daan mogot dari rumah dicondet, tak biasanya saya melewati gatot subroto yang terkenal sangat macet.

Karena sudah bisa diprediksi macet ahirnya saya memutuskan untuk menggunakan jalur alternatif lewat perkampungan dari condet menyebrang ke pasar minggu tapi tidak melalui pasar minggu raya, saya melintas pemukiman menyusuri rel sampe di kalibata berbelok arah potlot 3 dan masuk pancoran barat kemudian keluar tegal parang jelang titik macet terahir gatsu sebelum perempatan kuningan.

Setelahnya dijamin lancar, selama ini biasa begitu. Sesampainya di Tomang, terpampang billboard iklan besar, iklan sebuah roko.Tertulis pada billboard itu “Berani apa adanya walau depan calon mertua”. Sangat provokatif juga tulisan ini mengajak anak-anak muda untuk berlaku expresif, terlebih gambarnya melukiskan seorang gadis yang menyambut gembira si laki-laki ala rock star dengan membawa bunga dengan orang tua sang gadis yang meng halangi anaknya dan bertolak pinggang. Bagi yang muda, pastilah sangat suka gambar dan tag line yang tertera.

Bukannya saya tidak suka dengan tag line yang tertera, hanya saya ingin mengajak berpikir lain, anak muda sangat suka dengan yang namanya ekspresi diri -tak akan pernah saya larang, karena saya pun mengalaminya-, namun berani apa adanya dengan ekspresi ala rock star yang seolah tak berpihak pada etika saya pikir itu terlalu kanak-kanak, jadi knapa harus disatukan dengan kata berani?? Berekspresi ria adalah sesuatu hal yang sangat manusiawi dan sanggup dilakukan oleh siapapun termasuk bayi. Apa kita lupa dengan pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung???.

Satu hal lain yang tertera, calon mertua. Tag line ini disatukan dengan nada ekspresif “berani”. Saya pikir sangat berlebihan, tak tampak nada kepedulian dengan adat dan budaya, status pacaran saja sudah berani ekspresif, bagaimana nanti menjadi bagian keluarga. Hal yang menurut saya kurang mendidik. Orang tua, seburuk apapun mereka, mereka tetaplah orang tua yang harus dihargai dan disopan santuni. Berlaku ekapresif adalah hal yang paling gampang, siapapun bisa. Berlaku santun, siapa yang sanggup?? Perlu banyak keberanian dan banyak pembelajaran. Jadi? Berani ga anak muda berlaku santun penuh etika di jaman sekarang??? Ini bukan masalah berpikir kolot atau tidak, ini masalah pembelajaran dan kebiasaan, ini masalah saling menghargai. Anda sopan, kami segan. Bagaimana dengan anda??

Sumber :   iqbalnurhadi

Harap meninggalkan komentar jika artikelnya berguna

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s